Wagub Banten Inginkan Pembangunan Sport Centre Libatkan Pihak Swasta

Share
Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy ketika beraudiensi dengan jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel), yang diwakili Asda III Pemprov Sumsel Nadjib dan sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, dalam rangka studi banding pembangunan Jakabaring Sport City untuk diterapkan dalam pembangunan sport centre di Banten, Rabu (21/11/2017).

PALEMBANG, VERBUMNEWS.COM – Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy menginginkan agar pembangunan sport centre di Desa Kemanisan, Kecamatan Curug,   Kabupaten Serang tidak membebani  APBD Pemprov Banten. Untuk itu, pembangunan sport centre di Banten  harus  melibatkan banyak pihak swasta dan pihak lainnya, sebagaimana yang dilakukan Pemprov Sumsel yang dalam membangun Jakabaring Sport City.

“Kami ingin serius belajar mengenai bagaimana Jakabaring ini bisa dibangun secara bersama-sama dengan melibatkan pihak-pihak lain tanpa membebani seluruhnya kepada APBD,” kata Andika saat diterima Asisten Daerah III Sumsel Nadjib dalam kunjungan kerjanya ke Pemprov Sumsel, Rabu (22/11/2017).

Turut hadir dalam rombongan Wagub Andika yang diterima Asda III Sumsel Nadjib di Kantor Gubernur Sumsel tersebut, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Banten M Yanuar,  Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banten Deden Apriandhi dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banten Hadi Suryadi.

Menurut Andika, kebutuhan biaya untuk pembangunan sport centre di atas lahan seluas 60 hektare tersebut sekitar Rp1,8 triliun. Penganggarannya akan dilakukan secara multi years. Pada APBD 2018 telah dianggarkan Rp100 miliar.

“Menurut detail engineering design (DED) yang ada sekarang setidaknya itu kebutuhannya dananya. Tapi tidak menutup kemungkinan setelah kunjungan ini kita ingin sport centre yang lebih bagus lagi sehingga kebutuhan anggarannya bisa membengkak,” kata Andika.

Dikatakan Andika, dengan kebutuhan yang saat ini saja, angka tersebut sudah cukup besar mengingat APBD Banten   Rp11 triliun juga sangat dibutuhkan untuk kebutuhan pelayanan mendasar bagi warga Banten lainnya, seperti pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.

“Belum lagi kalau kita bicara biaya perawatannya. Fasilitas olahraga berkelas nasional dan internasional tentu biaya perawatannya juga tidak murah.  Kalau semua ditanggung APBD saya yakin tidak akan sanggup,”  ujarnya.

Sementara itu, dalam paparannya, Asda III Sumsel Nadjib mengungkapkan, pembangunan Jakabaring Sport Centre sampai sejauh ini setidaknya telah menghabiskan dana lebih dari Rp10 triliun. “APBD kami saja hanya Rp8 triliun, bahkan gak cukup itu kalau semuanya untuk bangun Jakabaring,” ujarnya.

Nadjib menjelaskan, dalam merealisasikan pembangunan Jakabaring Sport City, Pemprov Sumsel menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan yang beroperasi di Sumsel, baik BUMN maupun swasta. Selain itu  juga anggaran pemerintah pusat yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, khususnya di bidang keolahragaan.

“Jadi ini kita gotong royong. Kami dapat bantuan dari pihak swasta  berupa corporate social responsibility (CSR). Para kepala dinas kami ini bisa dibilang kerjaannya lebih banyak nongkrongin kementerian, daripada di kantornya di Palembang sini,” kata Nadjib.

Nadjib menjelaskan, dalam membangun Jakabaring Sport City sejumlah perusahaan swasta dan BUMN telah banyak memberikan bantuannya setelah dilakukan sejumlah upaya persuasif oleh Pemprov Sumsel kepada perusahaan-perusahaan tersebut. Menurut Nadjib, pemerintah daerah dan warganya memiliki kewenangan untuk meminta bantuan kepada perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut sepanjang sesuai dengan regulasi yang ada.

“Khusus untuk CSR memang jelas. Ada undang-undangnya. Sejumlah perusahaan yang telah membantu membangun Jakabaring Sport City seperti Conoco Philips, PT Pertamina, PT Bukit Asam dan PT Sinar Mas,” ujarnya.

Lebih jauh, Nadjib menyebut pihaknya juga langsung melakukan kerja sama dengan sejumlah asosiasi olahraga internasional pasca-pembangunan selesai dilakukan. Kerja sama dimaksud adalah untuk memastikan fasilitas  olahraga di Jakabaring Sport City terus digunakan untuk event-event olahraga internasional sepanjang tahun.

“Dengan begitu Jakabaring Sport City jadi punya anggaran sendiri untuk biaya perawatan sepanjang tahunnya. Dari APBD, untuk perawatan itu tak lebih dari Rp 200 juta setahun,” ujarnya.

Untuk diketahui,  Jakabaring Sport City adalah kompleks dari berbagai fasilitas olahraga di atas lahan seluas 325 hektare, yang terletak di wilayah Seberang Ulu sejauh 5 km dari pusat Kota Palembang. Kompleks olahraga ini merupakan tempat penyelenggaraan PON XVI 2014 dan SEA AGAMES  XXVI 2011. Di dalam kompleks ini terdapat Stadion Gelora Sriwijaya, stadion berkapasitas 40 ribu orang yang merupakan stadion terbesar ketiga se-Indonesia setelah Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Utama Palaran. Kompleks olahraga ini juga akan menjadi tempat sekunder untuk penyelenggaraan Asian Games 2018.

Pada saat Jakabaring dibangun untuk PON XVI 2004, kompleks ini hanya terdiri dari stadion utama dan dua hall olahraga Gelora Olahraga (GOR) Dempo dan Gelora Olahraga Ranau. Kompleks ini kemudian dikembangkan saat menyambut SEA Games XXVI 2011, dan akan dilakukan penambahan arena olahraga pendukung yang lainnya dalam rangka menyambut Asian Games 2018 yang akan dihelat bersama Jakarta.

Saat ini fasilitas yang ada di Jakabaring terdiri dari Stadion Gelora Sriwijaya, Stadion Lapangan Tenis Bukit Asam, Stadion Atletik, Stadion Akuatik, Gedung GOR Ranau (Badminton) dan Gedung GOR Dempo (Senam). Berikutnya Arena Baseball dan Softball, Stadion menembak, Arena Ski Air, Arena Voli Pantai, Arena Panjat Dinding, Arena Sepatu Roda, Arena Petanque, Arena Bowling dan Sirkuit International Jakabaring (dalam proses). Kawasan ini pun dilengkapi fasilitas pendukung seperti Wisma Atlet dan Gedung Sport Science. (ADV-Kominfo Banten8)

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait