Sindir Rano Karno, WH: Anti Narkoba Harus Ada Pada Diri Anak-anak Kita

Share
Dua pasangan calon peserta Pilkada Banten 2017 yakni pasangan nomor urut satu Wahidin Halim-Andika Hazrumy (WH-Andika) dan pasangan nomor urut dua Rano Karno-Embay Mulya Syarief (Rano-Embay).

JAKARTA, VerbumNews.com-Calon gubernur Banten dari nomor urut satu Wahidin Halim menyindir calon gubernur Banten dari nomor urut dua Rano Karno dengan mengatakan bahwa  pencegahan peredaraan dan penyalahan narkoba itu harus dimulai dari diri sendiri, lingkungan keluarga dan anak-anak serta lingkungan masyarakat.

Sindiran tersebut disampaikan Wahidin Halim karena putra angkat Rano Karno yakni Raka Widyarma pernah tersandung kasus narkoba pada tahun 2012 lalu. Hakim Pengadilan Negeri Tangerang  pada tanggal 30 Agustus 2012 memvonis  Raka Widyarma bersama teman wanitanya Karina Adytia,  satu tahun penjara, dipotong masa tahanan, dan sisa masa tahanan Raka dan rekan wanitanya Karina Adytia   menjalani rehabilitasi di Lido, Jawa Barat.

Pernyataan yang disampaikan oleh Wahidin Halim itu dalam rangka  menjawab pertanyaan yang diajukan moderator Dwi Anggia terkait strategi dan langkah konkrit  apa yang akan dilakukan untuk mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Provinsi Banten, dalam debat putaran kedua kandidat Pilkada Banten 2017 di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (29/01/2017) sore.

Menurut Data Badan Narkotika Nasional (BNN)  Provinsi Banten,  di Provinsi Banten menunjukkan angka prevalensi  penyalahgunaan narkoba cenderung naik.  Dari 170.110 orang  menjadi 190.110 orang. Peredaran narkoba di Provinsi Banten sudah masuk dalam kategori gawat dan memprihatinkan.

Menurut Wahidin persoalan narkoba saat ini tidak hanya sekadar untuk menikmati kesenangan tetapi juga narkoba sudah menjadi komoditas. Karena itu, kata Wahidin, pencegahan peredaran narkoba harus dimulai dari diri sendiri.

“Beranikah kita  mengatakan bahwa kita anti narkoba?  Anti narkoba harus ada dalam diri kita. Anti narkoba  harus ada pada diri anak-anak kita. Anti narkoba harus ada pada keluarga kita, pada lingkungan masyarakat kita. Karena narkoba bukan sekadar  alat untuk mencari  kesenangan,  tapi narkoba juga sudah menjadi komoditas.  Tidak sekadar rehabilitasi, tidak sekadar mengandalkan polisi tidak masalah apakah itu polda Metro Jaya atau Polda Jawa Barat, tapi yang jelas harus ada komitmen yang kuat dari kita untuk mengatakan tidak untuk narkoba. Bagaimana masyarakat bisa percaya kepada kita, ketika kita tidak berani mengatakan tidak untuk narkoba,” tegas Wahidin.

Karena itu menurut Wahidin, baik bandara maupun  pelabuhan yang menjadi pintu masuk narkoba dari berbagai tempat harus diawasi secara ketat.  “Satu hal, tegakkan aturan. Sosialisasi kepada masyarakat, dan perlu hukum yang berat tidak pandang bulu, siapapun itu,” ujarnya.

Sementara calon wakil gubernur Banten Andika Hasrumy menambahkan, dirinya bersama Wahidin Halim (WH) akan mem-support lembaga terkait dalam hal ini Polri dan BNN. Selain Pemprov Banten juga perlu membuat Perda terkait pencegahan narkoba di Provinsi Banten.

“Kami juga akan memberdayakan seluruh rumah sakit yang ada di Provinsi Banten agar menyiapkan tempat khusus untuk rehabilitasi para korban narkoba di Provinsi Banten,” ujarnya.

Menjawabi pertanyaan yang sama, cawagub Banten dari nomor urut dua  Embay Mulya Syarief mengatakan bahwa Banten bukan hanya darurat korupsi tetapi darurat narkoba.  “Dalam persoalan narkoba, kita perlu  bedakan  antara bandar, pengedar dan  korban. Untuk bandar  saya setuju ditembak mati. Namun untuk korban harus direhabilitasi,” katanya.

Embay mengatakan  pihaknya  telah mewakafkan tanah seluas 6,7 hektare untuk dibangun balai rehabilitasi korban narkoba  yang bekerja sama  antara BNN, Pemprov dan para ulama.  “Insya Allah nanti para pimpinan pondok pesantrean dilibatkan untuk mengelola balai rehabilitasi narkoba, di tingkat Provinsi Banten,” ujarnya.

Lebih lanjut cagub nomor urut dua Rano Karno menjelaskan,  Bandara Soekarno Hatta sekarang masuk wilayah Banten.  “Dulu Bandara Soekarno Hatta disebut Jakarta. Tetapi kalau ditangkap Bandar Narkoba ditulis Tangerang, Banten. Kemudian kita mempunyai garis pantai sepanjang  517 km.  Pintu-pintu, jalur tikus narkoba luar biasa. Bukan hanya di wilayah utara tetapi juga di wilayah selatan.  Bahkan di Neglasari Tangerang, ditemukan bahan baku sabu. Ini adalah problematika kita,” kata Rano.

Rano Karno mengaku bahwa selama ini sangat sulit berkoordinasi karena Provinsi Banten  berada di bawah dua Polda yakni Polda Banten dan Polda Metro Jaya. Selain itu, Pangdam juga ada dua yakni Pangdam Siliwangi dan Pangdam Jaya. “Bagaimana kita berkoordinasi.  Inilah alasannya mengapa saya merekomendasi segera atas kajian Polri agar seluruh Polres di Tangerang Raya digabungkan ke Polda Banten sehingga koordinasi bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Editor: L Dami

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait