Sembilan Orang Meninggal Akibat Penyakit Difteri di Wilayah Provinsi Banten

Share
Ilustrasi

SERANG, VERBUMNEWS-Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat angka kematian akibat penyakit  difteri  di wilayah Banten mencapai sembilan orang  hingga tanggal 11 Desember 2017.  Karena itu, masyarakat  dimintai untuk waspada terhadap penyebaran penyakit yang mematikan tersebut.

Berdasarkan data yang dimiliki Dinkes Banten, kasus difteri telah mencapai 81 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia sembilan orang.  Daerah yang paling tinggi terjadi kasus difteri adalah  Kabupaten Tangerang  sebanyak 27 kasus dan empat orang dinyatakan meninggal.

Kemudian disusul Kabupaten Serang  sebanyak 14 kasus dengan dua orang dinyatakan meninggal dunia; Kota Tangerang 14 kasus, Kabupaten Pandelang 10 kasus dan satu orang meninggal;  Kota Serang delapan kasus dan satu orang meninggal;  Kota Tangerang Selatan empat kasus, Kabupaten Lebak tiga kasus  dan satu orang  meninggal dunia  dan Kota Cilegon satu kasus.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI diketahui pada hari Senin (11/12/2017)  melakukan imunisasi ulang atau outbreak response immunization (ORI) vaksin Difteri-Tetanus (DT) secara serentak di tiga wilayah yakni Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Kepala Seksi Surveillence, Imunisasi dan Krisis Kesehatan pada Dinkes Banten Rostina, mengatakan kasus penyakit difteri di Banten sudah memakan korban hingga menyebabkan kematian.

“Penyebaran penyakit difteri dari hari ke hari terus mengalami perubahan yang signifikan setiap jamnya. Hal ini disebabkan karena penyakit tersebut sangat mudah menular ke orang lain,” ujar Rostina, di Serang, Senin (11/12/2017).

“Masalahnya anti difteri serum itu langka, bukan hanya di Indonesia tapi juga di hampir semua negara. Jadi kematian lumayan tinggi. Penanganannya saat ini pasien dirawat di ruang isolasi, tak boleh disatukan dengan pasien lainnya karena ini penyakit yang sangat menular dan penyakit mematikan,”  tambahnya.

Rostina menjelaskan, berdasarkan  hasil investigasi, mewabahnya penyakit difteri lebih disebabkan karena banyaknya  pasien yang tidak mendapat vaksin sejak balita. Bahkan menurutnya, hal itu terjadi karena banyaknya penolakan terhadap vaksin tersebut.

“Karena memang cakupan imunisasinya bolong-bolong, banyak yang menolak. Terjadilah seperti ini. Sebenarnya vaksin untuk difteri ini waktu masih bayi. Dari semua kasus difteri ini, hampir 70 persen tidak divaksin, sisanya 30 persen divaksin tapi tidak lengkap. Hanya sekali atau dua kali, kalau yang  lengkap harus empat kali,” ujarnya.

Untuk mencegah semakin meluasnya penyakit difteri tersebut maka dilakukan  outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi kejadian luar biasa (KLB). Langkah itu akan dilakukan pada masyarakat umum mulai 11 Desember 2017 dengan sasaran lima kabupaten/kota.

Dalam pemberian vaksin, pihaknya akan memprioritaskan anak yang berusia satu hingga 19 tahun. Adapun tempat pemberian vaksin nantinya difokuskan di posyandu, puskesmas dan rumah sakit.

“ORI dilakukan  di Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kota Tangerang, pada Senin (11/12). Kemudian Kabupaten dan Kota Serang. Nanti kami juga turun ke sekolah-sekolah dan sweeping juga ke rumah-rumah,” ujarnya.

Waspada

Secara terpisah, Kepala Dinkes  Banten Sigit Wardojo mengimbau kepada masyarakat agar mewaspadai wabah difteri yang saat ini sudah semakin menyebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Banten.

Masyarakat  diminta untuk cepat bertindak jika ada anggota keluarganya mengalami gejala-gejala seperti penyakit tersebut.

“Ada beberapa gejala yang bisa kita ketahui kalau seseorang itu kena difteri, salah satunya demam disertai  sakit di  tenggorokan. Saat dibuka mulutnya ada membran putih yang lengket dan kalau dipaksa dia berdarah,” kata Sigit.

Menurutnya, jika gejala-gejala itu ditemukan dalam penyakit yang diderita seseorang, maka anggota keluarganya harus segera membawa orang tersebut ke rumah sakit terdekat agar bisa mendapatkan perawatan lebih lanjut. “Kalau sudah begitu, segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat,” jelasnya.

Imunisasi 526.314 Warga

Sementara itu, sebagai langkah antisipasi mewabahnya penyakit difteri,  Dinkes  Kabupaten Serang menargetkan imuniasasi bisa dilakukan terhadap 526.314 warga di seluruh kecamatan. Imunisasi itu dilakukan dengan sasaran umur satu hingga 19 tahun.

Kepala Bidang‎ Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Dinkes Kabupaten Serang, dr Riris Budiharni mengatakan, Provinsi Banten sudah berjanji bahwa vaksin difteri untuk kejadian luar biasa (KLB) ini akan terpenuhi sesuai dengan sasaran. Pelayanan imunisasi sendiri diberikan secara gratis.

Adapun vaksin yang akan digunakan untuk imunisasi difteri ini antara lain  usia 1-5 tahun diberi vaksin penta,  usia 5-7 tahun diberi vaksin DT dan usia lebih dari tujuh tahun diberi vaksin Td.

‎”Imunisasi sudah mulai berjalan  di posyandu dan sekolah sejak Senin (11/12). Pelaksanaannya kita gak bisa bilang berapa hari, karena kan kebanyakan anak sekolah menjadi sasaran dari imunisasi tersebut.  Apalagi anak sekolah sebentar lagi libur,”   ujar  Riris.

Kendati tidak bisa menargetkan kapan vaksinasi ini akan selesai, namun pihaknya berhadap pemberian imunisasi bisa selesai pada Maret 2018 mendatang. “Pokoknya, di jadwal kegiatan kami diantaranya untuk interval pertama  mulai Desember  2017  hingga  Januari 2018 kita upayakan sudah dapat semua. Kemudian untuk interval kedua akan dimulai pada Maret 2018,”  katanya.

Diakuinya, selama ini kesadaran masyarakat untuk melakukan imunisasi‎ pada pelayanan kesehetan terdekat masih rendah. Hal ini terlihat dari kasus masyarakat yang terjangkit difteri hampir sebagian besar tidak mendapatkan imunisasi.

Menurutnya, masih enggannya masyarakat untuk membawa anaknya imunisasi tak lain karena banyak orang tua yang tidak mau‎ menerima reaksi yang ditimbulkan dari imunisasi tersebut, diantaranya seperti panas.

“Biasanya orang tua tidak mau ribet kalau anaknya panas. Sebab, reaksi panas itu menandakan vaksin itu bereaksi. Tapi saya yakin teman-teman di puskesmas selalu memberikan penyuluhan,” katanya.

Editor: L Dami

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait