Pencarian Helikopter Bell-412EP Oleh Tim SAR Terkendala Cuaca Buruk

Share
Helikopter jenis Bell-412EP. Profil helikopter tipe Bell-412 EP yang tergabung dalam daftar arsenal Pusat Penerbangan TNI AD. Helikopter ini termasuk yang laris di dunia dan telah dibuat sekitar 900 unit. Bell-412EP berdaya jangkau terbang sekitar 640 km atau terbang hampir empat jam tanpa henti, dengan kecepatan rata-rata 250 km/jam. Dia mampu menerbangkan 14 orang termasuk tiga pengawak atau membawa beban 2.500 kilogram. Disebut-sebut harga unit kosong di kisaranUS$ 6,7 juta di negaranya, dengan konsumsi BBM sekitar 0,53 km/liter pada kecepatan ekonomis.
Helikopter jenis Bell-412EP. Profil helikopter tipe Bell-412 EP yang tergabung dalam daftar arsenal Pusat Penerbangan TNI AD. Helikopter ini termasuk yang laris di dunia dan telah dibuat sekitar 900 unit. Bell-412EP berdaya jangkau terbang sekitar 640 km atau terbang hampir empat jam tanpa henti, dengan kecepatan rata-rata 250 km/jam. Dia mampu menerbangkan 14 orang termasuk tiga pengawak atau membawa beban 2.500 kilogram. Disebut-sebut harga unit kosong di kisaranUS$ 6,7 juta di negaranya, dengan konsumsi BBM sekitar 0,53 km/liter pada kecepatan ekonomis.

MALINAU, VerbumNews.com-Pencarian  tim  SAR darat gabungan  terhadap  helikopter Bell-412EP nomor registrasi HA-5166 milik Pusat Penerbangan TNI AD, yang diperkirakan jatuh di Desa Nasanrang, Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, terkendala cuaca buruk.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malinau, Elisa, di Malinau, seperti dikutip Antara, Minggu (27/11/2016), menjelaskan, tim SAR darat gabungan itu mendirikan pos di Desa Long Sulit, Kecamatan Mentarang Hulu, yang dianggap lebih dekat ke lokasi sasaran.

Helikopter Bell-412EP TNI AD itu terbang dengan membawa beban logistik menuju Pos Pengamanan Perbatasan Negara di Tanjung Karya, Desa Long Bawan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, pada 24 November 2016  lalu.

Elisa menjelaskan, untuk bisa ke titik persis di mana helikopter itu diduga jatuh, tim SAR darat gabungan harus memakai teknik rapelling (turun memakai tali), karena lokasi itu di jurang. Kerapatan vegetasi di hutan belantara menuju titik itu juga menjadi kendala  tersendiri yang harus dihadapi tim SAR.

Editor: L Dami 

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait