Pasukan Suriah dan Rusia Berhasil Mengusir ISIS dari Kota Palmyra

Share

 

Pasukan Tentara Suriah yang pro Presiden Bashar al Assad berada pada titik menghadap ke kota bersejarah Palmyra, Minggu (27/03/2016). (Foto: Reuters)
Pasukan Tentara Suriah yang pro Presiden Bashar al Assad berada pada titik menghadap ke kota bersejarah Palmyra, Minggu (27/03/2016). (Foto: Reuters)

BEIRUT, VerbumNews.com-Pasukan pemerintah Suriah  didukung oleh pasukan udara Rusia berhasil mengusir ISIS dari  Kota Palmyra pada hari Minggu (27/03/2016). Ini merupakan pukulan mematikan bagi ISIS yang merebut Kota Palmyra tahun lalu.

Hilangnya Palmyra dari kekuasaan ISIS  merupakan salah satu kemunduran terbesar bagi kelompok Islam garis keras  yang telah menyatakan kekhalifahan pada tahun 2014 di sebagian besar Suriah dan Irak.

Tentara perintah mengatakan bahwa pasukannya mengambil alih Kota Palmyra dengan dukungan serangan udara Rusia dan Suriah, membuka hamparan besar gurun menuju ke timur ke benteng ISIS,   Raqqa dan Deir al-Zor.

Palmyra akan menjadi  tempat  untuk memperluas operasi militer terhadap kelompok di dua provinsi. Pasukan pemerintah akan terus menyerang kelompok teroris dan memotong rute pasokan guna merebut kembali seluruh kota yang dikuasai ISIS.

Pengamat Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan bentrokan terus terjadi  di tepi timur dari Palmyra, sekitar penjara dan bandara, tetapi sebagian besar kekuatan ISIS  telah dipukul mundur ke timur, meninggalkan kota di bawah kendali Presiden Bashar al-Assad.

Pengamat  mengatakan enam ledakan besar  terdengar di kota dipicu oleh serangan tiga bom mobil dalam kota oleh kelompok militan. Tiga anggota ISIS  meledakkan diri di dalam kota ketika hendak ditangkap sehingga  menimbulkan korban antara pasukan militer dan pasukan sekutu.

Siaran televisi Suriah yang dikelola negara dari dalam kota, menunjukkan jalan-jalan kosong dan bangunan rusak parah.

Sumber  militer mengatakan jet Suriah dan Rusia menargetkan pejuang ISIS  karena mereka melarikan diri, menghalau  puluhan kendaraan di jalan menuju timur dari kota.

Kendati beberapa waktu lalu Rusia menyatakan menarik pasukan dari Suriah, namun dalam faktanya jet dan helikopter Rusia terus melakukan serangan setiap hari . Intervensi Rusia sejak  September 2015 dalam mendukung Asad bertujuan untuk menyelesaikan konflik di Suriah yang sudah berlangsung lima tahun.

“Pencapaian ini merupakan pukulan mematikan untuk organisasi teroris. Ini merupakan awal  keruntuhan besar,  awal kekalahan para tentara bayaran atau ISIS,” demikian  pernyataan komando militer.

Dalam komunikasi per telepon  dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Assad mengatakan dukungan udara Rusia sangat penting  dalam mengambil kembali Palmyra, dan mengatakan kota itu akan dibangun kembali.

“Palmyra dihancurkan lebih dari sekali selama berabad-abad. Kami akan mengembalikannya lagi sehingga akan menjadi harta warisan budaya bagi dunia,” demikian kata  Assad  yang dikutip televisi Suriah.

Direktur Lembaga Pengamat  Rami Abdulrahman mengatakan 400 pejuang ISIS  tewas dalam pertempuran merebut Kota Palmyra, yang ia sebut sebagai kekalahan tunggal terbesar untuk kelompok ISIS  karena mengumumkan khalifah lintas-perbatasan hampir dua tahun yang lalu.

Kota Palmyra berhasil dibebaskan , tiga bulan setelah pejuang  ISIS diusir dari Kota Ramadi di Irak, kemenangan besar pertama untuk tentara Irak sejak runtuh dalam menghadapi serangan kelompok militan pada  Juni 2014.

ISIS  telah kehilangan tanah di tempat lain, termasuk Kota Tikrit, Irak dan Kota al-Shadadi, Suriah pada bulan Februari 2016. Pasukan pemerintah dan sekutu terus berupaya  memotong hubungan antara dua pusat kekuasaan utama ISIS dari Mosul di Irak dan Raqqa di Suriah.

Pada hari Jumat (25/03/2016)  Amerika Serikat mengatakan mereka yakin telah membunuh beberapa militan senior ISIS, termasuk Abd ar-Rahman al-Qaduli, digambarkan sebagai pejabat keuangan terkemuka ISIS  dan pembantu pemimpinnya, Abu Bakr al-Baghdadi.

Delegasi pemerintah, yang menggambarkan perang melawan terorisme sebagai prioritas utama Suriah, akan kembali ke perundingan bulan depan didukung oleh keberhasilan  di medan tempur itu.

“Pembebasan kota bersejarah Palmyra hari ini adalah sebuah prestasi penting dan indikasi lain dari keberhasilan strategi dikejar oleh tentara Suriah dan sekutu-sekutunya dalam perang melawan terorisme,” kata Assad melalui  televisi Suriah.

Pengamat  mengatakan sekitar 180 tentara pemerintah dan pejuang sekutu tewas dalam kampanye untuk merebut kembali Palmyra, yang merupakan rumah bagi beberapa reruntuhan yang paling luas dari kekaisaran Romawi.

Militan  ISIS  menghancurkan  beberapa monumen di Palmyra menggunakan dinamit tahun lalu, dan cuplikan siaran televisi  Suriah dari dalam  museum Palmyra pada hari Minggu (27/03/2016) menunjukkan patung-patung roboh dan rusak  serta beberapa bagian lainnya yang  hancur.

Kepala Barang Antik Suriah Mamoun Abdelkarim mengatakan landmark kuno lainnya masih berdiri. Ia berjanji untuk mengembalikan monumen yang rusak.

“Palmyra telah dibebaskan. Ini adalah akhir dari penghancuran di Palmyra,” kata Mamoun Abdelkarim kepada Reuters, Minggu (27/03/2016). “Berapa kali kami  menangis untuk Palmyra? Berapa kali kami  merasa putus asa? Tapi kami tidak kehilangan harapan.”

Editor: L Dami

Sumber: Reuters

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait