Para Pemimpin UE Tekan Turki Kurangi Arus Migran ke Eropa

Share
Pengungsi dan migran turun dari perahu nelayan di Pulau Lesbos, Yunani setelah melintasi Laut Aegea dari Turki, pada hari Minggu, 11 Oktober 2015 lalu. Lebih dari satu juta pengungsi dan migran melarikan diri ke Eropa pada tahun 2015 lalu. (Foto: CNN)
Pengungsi dan migran turun dari perahu nelayan di Pulau Lesbos, Yunani setelah melintasi Laut Aegea dari Turki, pada hari Minggu, 11 Oktober 2015 lalu. Lebih dari satu juta pengungsi dan migran melarikan diri ke Eropa pada tahun 2015. (Foto: CNN)

BRUSSELS, VerbumNews.com-Para pemimpin Uni Eropa (UE) mengadakan pertemuan darurat dengan Turki guna mencegah kedatangan sebanyak 10 ribu migran yang terjebak di perbatasan Yunani-Macedonia.

Sekitar 134.900 migran telah menyeberangi Laut Mediterania ke Eropa tahun ini. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan kurang lebih 500 orang migran telah meninggal dalam perjalanan.

Para pemimpin pemerintahan Uni Eropa diharapkan mendorong Turki untuk berbuat lebih banyak untuk mencegah migran meninggalkan kampung halamannya. Para migran ekonomi atau orang yang telah meninggalkan kampung halaman mereka dengan harapan kehidupan yang lebih baik, harus dipulangkan.

Sebagai imbalannya, Uni Eropa akan mendukung Turki dalam mengelola jutaan pengungsi yang sudah ada.

Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa prioritasnya adalah memutuskan mata rantai (link) kembalinya migran ke pemukiman di Eropa, serta menghancurkan geng perdagangan manusia dan mendorong migran ekonomi kembali ke daerah asalnya.

Selain itu, David Cameron juga menyatakan mendukung Turki, yang sudah menjadi tuan rumah 2,6 juta migran; dan memberikan bantuan teknis kepada Yunani untuk mempercepat pemrosesan klaim migran dan pemulangan migran ilegal.

Akhir tahun lalu telah disepakati terkait membangun rencana aksi bersama Uni Eropa-Turki untuk meningkatkan pendanaan dan bantuan kemanusiaan bagi migran di Turki, dan untuk menargetkan jaringan penyelundupan manusia. Tahun ini telah dikerahkan kapal perang NATO di tirmur Mediterania.

Sementara itu, Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan satu-satunya cara untuk menanggapi tantangan ini adalah solidaritas.

“Pada akhirnya, benua kami adalah benua kita bersama,” ujar Ahmet Dovutoglu kepada wartawan di Brussels, Belgia, Senin (07/03/2016).

Berdasarkan catatan Badan Statistik Uni Eropa, Eurostat, sebanyak 1,2 juta migran meminta suaka ke Uni Eropa pada tahun 2015. Jumlah tersebut, lebih dari dua kali lipat jumlah tahun sebelumnya. Negara Suriah, Afghanistan dan Irak sebagai penyumbang migran yang paling banyak, lebih dari setengah jumlah yang ada. Titik masuk para imigiran ini ke Eropa paling banyak lewat Turki dan Yunani, tetangga Eropa.

Pada Senin (07/03/2016) pagi, terjadi penumpukan migran di sebuah kamp di Idomeni, sebuah desa di perbatasan Yunani dengan Macedonia. Sebanyak lebih dari 11.000 migran berdesakan dalam kamp, yang dirancang sebagai kamp transit dengan kapasitas 1.500 orang.

Pihak berwenang hanya mengizinkan beberapa ratus migran asal Suriah dan Irak melewati Macedonia setiap hari. Hal ini akan mengakibatkan Yunani menjadi sebuah kamp pengungsi massal.

Editor: L Dami

Sumber: CNN

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait