Kisah di Balik Ditemukannya Puing-puing Tsunami Jepang di Pantai Amerika Utara

Share
Seluruh kota di pantai utara-timur Jepang hanyut akibat tsunami 2011. (Foto: Reuters)
Seluruh kota di pantai utara-timur Jepang hanyut akibat tsunami 2011. (Foto: Reuters)

Masih ingat gempa bumi dan tsunami yang melanda Pantai utara-timur Jepang pada 11 Maret 2011 silam? Bencana tsunami itu telah menewaskan sebanyak 16.000 orang dan rumah serta sejumlah harta benda milik warga terhanyut ke laut.

Pemerintah Jepang memperkirakan kira-kira sebanyak 20 juta ton harta benda milik warga,  baik itu mobil, motor, kapal, perahu motor, maupun rumah dan  lain-lain terhanyut ke Samudera Pasifik. Sebagian besar puing-puing itu, mungkin tenggelam ke dasar laut, namun ada beberapa di antaranya terdampar di sepanjang Pantai Amerika Utara, mulai dari Alaska hingga Hawaii.

Tim konservasi laut, yang melakukan ekspedisi tahun 2012,  menemukan sebuah kapal nelayan ukuran besar. Pada awalnya mereka mengira bahwa itu ikan paus. Namun ketika semakin mendekat dengan objek tersebut, terlihat jelas  tulisan dengan menggunakan bahasa  Jepang di lambung kapal tersebut.

 “Ini milik orang, ini adalah properti seseorang,” kenang Marcus Eriksen, konservasionis laut yang memimpin ekspedisi 2012 untuk survei  puing-puing besar   yang terhanyut  ke laut akibat  gempa bumi yang memicu tsunami  dahsyat  yang melanda pantai utara-timur Jepang pada 11 Maret 2011 silam.

Hingga September 2015, sekitar  64 item puing-puing  ditemukan terdampar di sepanjang Pantai Amerika Utara mulai dari Alaska hingga Hawai, dan secara resmi telah diidentifikasi sebagai puing-puing tsunami Jepang.

The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melalui Marine Debris Programme, yang bermarkas di Hawaii, telah bekerja sama dengan pemerintah Jepang, melalui konsulat lokal, untuk mengidentifikasi barang-barang tersebut. Pada tahun-tahun sejak bencana ada cerita yang luar biasa dari benda-benda yang terdampar di Pantai Amerika Utara tersebut. Beberapa di antaranya telah dikembalikan kepada  pemiliknya.

Sepeda motor Harley-Davidson masih utuh. (Foto: NOAA)
Sepeda motor Harley-Davidson masih utuh. (Foto: NOAA)

Sebuah sepeda motor Harley-Davidson  ditemukan di Pulau  Graham, di British Columbia di Kanada. Sepeda motor tersebut kemudian diketahui bahwa  pemiliknya  di Jepang bernama, Ikio Yokohama.

Peter Mark, orang yang menemukan itu pada bulan April 2012, menyadari bahwa sepeda motor itu merupakan puing-puing tsunami Jepang karena plat  nomor Jepang masih melekat pada motor tersebut.

Setelah mempertimbangkan tawaran untuk kapal motor kembali ke Jepang untuk diperbaiki, pemiliknya memutuskan itu harus dipamerkan di Museum Harley-Davidson di Milwaukee, Amerika Serikat, sebagai peringatan bagi mereka yang hidupnya tersentuh oleh bencana.

Papan kayu (Foto: NOAA)
Papan kayu (Foto: NOAA)

Kisah lainnya, sebuah desa di Jepang bernama Desa Tanohata hancur oleh gempa dan tsunami 2011. Sebagian besar kota di Iwate, Jeoang  tersapu ke laut.

Namun, dari semua properti yang hancur dan terhanyut ke laut, ada satu properti yang terdampar yakni sebuah papan kayu dengan panjang tiga meter. Pada papan kayu itu tertulis nama “Shimanokoshi.” Ini merupakan papan nama desa.

Papan kayu tersebut ditemukan pada Oktober 2013, sekitar 6.000 km di Kahuku Beach, Pulau Oahu, Hawai. Sekitar bulan Juli 2014, papan kayu itu diterbangkan ke tempat asalnya di Jepang.

Papan kayu itu oleh pemerintah Jepang dipamerkan, sebagai tanda pengingat bagi generasi mendatang.

Bola milik salah satu siswa di Jepang. (Foto: NOAA)
Bola milik salah satu siswa di Jepang. (Foto: NOAA)

Cerita lainnya adalah terkait seorang siswa Jepang bernama Misaki Murakami (16). Pada saat tsunami dia  kehilangan segala yang ia miliki saat tsunami menyapu rumahnya di Rikuzentakata.

Namun, lebih dari setahun, salah satu benda miliknya yakni sebuah bola ditemukan di Pulau Middleton, Alaska. Bola itu, sebenarnya hadiah dari teman Misaki ketika pindah sekolah beberapa tahun sebelumnya. Bola itu ditemukan oleh David dan Yumi Baxter. Untungnya Yumi Baxter mampu berbahasa Jepang dan memahami tulisan yang ada pada bola tersebut sehingga membantu mengembalikan bola itu ke pemiliknya di Jepang, Misaki Murakami.

Perahu dayung. (Foto: NOAA)
Perahu dayung. (Foto: NOAA)

Selanjutnya, sebuah perahu dayung, atau perahu, ditemukan  pada tanggal  7 April 2013 di Pantai Crescent City, California. Perahu, yang sering disebut Kamome (Seagull) tersebut, milik sebuah sekolah tinggi di Rikuzentakata. Pada saat tsunami sekolah tersebut  rata dengan tanah, seluruh bangunan hanyut ke laut.

Kapal (Foto: NOAA)
Kapal (Foto: NOAA)

Salah satu bagian dari puing-puing  yang sempat  terlihat, tapi tidak bisa diselamatkan, adalah crewless “kapal hantu.” Kapal itu pertama kali terlihat di lepas pantai Provinsi British Columbia di Kanada pada tanggal 23 Maret 2012. Namun, kapal tersebut, perlahan-lahan hanyut dan tenggelam.

Untuk menyelamatkan puing kapal itu sangat berisiko karena berada di kedalaman 50 meter. Selain itu, kapal penangkap ikan, tenggelam di kedalaman 314 km di Alaska, karena terkena tembakan meriam angkatan laut.

Puing-puing itu dijadikan objek menarik bagi para ilmuwan dan ahli kelautan untuk melakukan riset dan penelitian tentang angin dan arus laut. Puing-puing itu bergeser hingga ribuan mil jauhnya.

Namun yang paling menyentuh rasa kemanusiaan  di balik ditemukannya puing-puing itu, adalah kisah tragedi tsunami  yang menewaskan 16.000 jiwa warga Jepang pada tahun 2011 silam.

Editor: L Dami

Sumber: BBC

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait