Kesepakatan UE dan Turki untuk Atasi Krisis Migran Mulai Berlaku

Share
Sekitar 1.500 hingga 3.000 orang di Athena berdemonstrasi mendukung migran dan pengungsi
Sekitar 1.500 hingga 3.000 orang di Athena berdemonstrasi mendukung migran dan pengungsi, Sabtu (19/03/2016).

ATHENA, VerbumNews.com-Kesepakatan antara Uni Eropa (UE) dan Turki untuk mengatasi krisis migran telah secara resmi mulai berlaku.

Berdasarkan kesepakatan itu, migran  yang saat ini tiba di  Yunani  akan dikirim kembali ke Turki jika mereka tidak mengajukan permohonan suaka atau klaim mereka ditolak.Namun pihak Yunani  mengatakan tidak mungkin kesepakatan itu langsung dilaksanakan.

Kesepakatan itu mengatakan bahwa untuk setiap migran Suriah dikirim kembali ke Turki. Migran Suriah yang sudah di Turki akan dimukimkan kembali di Uni Eropa.

Namun, masih banyak keraguan tentang pelaksanaan perjanjian tersebut, termasuk bagaimana migran akan dikirim kembali.

Sebanyak 2.300 ahli, termasuk para pejabat keamanan dan migrasi serta  penerjemah,  direncanakan untuk dikirim  ke Yunani guna  membantu menegakkan kesepakatan tersebut.

Namun para pejabat Yunani mengatakan tidak ada seorang pun dari para ahli telah tiba dan kesepakatan tidak bisa segera dilaksanakan.

“Sebuah rencana seperti ini  tidak bisa langsung dilaksanakan hanya dalam waktu 24 jam,” kata juru bicara pemerintah Yunani  Giorgos Kyritsis.

Kesepakatan itu  bertujuan untuk membendung  perjalanan berbahaya para migran melalui laut dari Turki ke Yunani. Sebagai imbalannya, Turki akan menerima bantuan dan konsesi politik.

Para pejabat mengatakan sekitar 1.500 migran menyeberang dari Aegean ke pulau-pulau Yunani pada hari Jumat (18/03/2016) lalu. Jumlah tersebut, lebih dari dua kali lipat jumlah di hari sebelumnya. Dan, hanya beberapa jam sebelum kesepakatan  mulai berlaku, seorang bayi perempuan empat-bulan tenggelam saat kapal yang membawa migran tenggelam di lepas pantai Turki.

Sejak Januari 2015, satu juta migran dan pengungsi telah memasuki Uni Eropa dengan kapal dari Turki ke Yunani. Lebih dari 143.000 telah tiba tahun ini saja, dan sekitar 460 tewas, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Ada beberapa poin kesepakatan antara UE dan Turki dalam menangani krisis migran yaitu: pertama, semua migran ilegal yang menyeberangan dari Turki ke Yunani dari 20 Maret 2016, akan dikirim kembali ke Turki. Setiap kedatangan para imigran diperiksa satu per satu oleh otoritas Yunani.

Kedua, seluruh migran akan kembali ke Turki. Migran asal Suriah akan dimukimkan kembali di UE. Prioritas akan diberikan kepada migran yang belum legal masuk ke UE dan jumlahnya dibatasi hanya 72.000 migran.

Ketiga, warga Turki harus memiliki akses ke zona bebas paspor Schengen pada bulan Juni 2016. Namun ini tidak berlaku untuk negara-negara non-Schengen seperti Inggris.

Keempat, terkait bantuan keuangan, UE akan mempercepat alokasi bantuan sebesar US$ 3,3 miliar ke Turki untuk menangani migran.

Kelima, UE dan Turki sepakat akan membicarakan kembali upaya Turki untuk bergabung ke blok Eropa pada bulan Juli 2016 mendatang.

Sebagaimana diketahui, sebagian besar migran tertarik untuk pergi ke Jerman dan negara-negara Uni Eropa utara lainnya. Puluhan ribu migran saat ini terjebak di Yunani.

Kesepakatan UE dan Turki ini  dikhawatikan akan berakibat para migran bertekad untuk mencapai Eropa dengan  menggunakan rute lain dan berpotensi lebih berbahaya, seperti perjalanan antara Afrika Utara dan Italia.

Pada hari Sabtu, penjaga pantai Italia mengatakan lebih dari 900 orang berhasil diselamatkan melalui Selat Sisilia.

Sementara, pihak berwenang Libya mengatakan empat mayat wanita  ditemukan tapi setidaknya 20 orang lainnya masih hilang setelah kapal yang membawa migran tenggelam di lepas pantai negara itu.

Para pejabat di sana mengatakan mereka menyelamatkan hampir 600 orang dari tiga kapal lainnya pada hari Sabtu (19/03/2016).

Sementara itu kelompok  pejuang hak asasi manusia dan Amnesti Internasional mengecam keras kesepakatan UE dan Turki. . UE dituduh berada di balik masalah krisis global migran.

Pada hari Sabtu (19/03/2016), ribuan orang memprotes dan  mendukung pengungsi dan melawan rasisme. Unjuk Rasa diadakan di London, Athena, Barcelona, ​​Amsterdam, Jenewa dan beberapa kota lainnya.

Di ibukota Yunani, demonstran, termasuk beberapa pengungsi Afghanistan, meneriakkan “Buka perbatasan” dan “Kami adalah manusia, kami  memiliki hak”.

Di London ratusan orang berdemo dukung migran dan pengungsi serta menolak rasisme
Di London 4.000 orang berdemo dukung migran dan pengungsi serta menolak rasisme, Sabtu (19/03/2016)

Di London, sekitar 4.000 orang bergabung melakukan protes atas kesepakatan UE dan Turki. Para demonstran membawa spanduk  bertuliskan  slogan-slogan seperti  “Refugees welcome here,”  dan “Stand up to Racism.”

Editor: L Dami

Sumber: BBC

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait