“Kalau Saya Harus Kehilangan Kesempatan sebagai Cagub, Saya Ikhlaskan”

Share
Gubernur Banten nonaktif Rano Karno sedang berinteraksi dengan pasien bernama Siti Fadilah, di RSUD Banten, Senin (21/11/2016).
Gubernur Banten nonaktif Rano Karno sedang berinteraksi dengan pasien bernama Siti Fadilah, di RSUD Banten, Senin (21/11/2016).

“Kalau sampai pilihan saya mengangkat Siti sebagai anak harus membawa konsekuensi saya kehilangan kesempatan sebagai calon gubernur (cagub), maka biarlah saya kehilangan kesempatan itu. Saya ikhlaskan.”

Itulah pernyataan   Gubernur Banten nonaktif selaku calon petahana Gubernur Banten periode 2017-2022 Rano Karno. Pernyataan tersebut merupakan respon Rano Karno terhadap tuduhan dugaan kampanye terselubung yang dilakukannya ketika berkunjung ke RSUD Banten, untuk menjenguk pasien  Siti Fadilah yang sedang dirawat karena kecelakaan.

Siti Fadilah adalah  siswi SMP Mathla’ul Anwar di Rangkasbitung, Lebak. Suatu hari, sekitar delapan bulan yang silam ia mengendarai motornya dari rumah menuju sekolah. Siti perlahan menepi menyusuri tikungan dari arah rumahnya di Kampung Nangklak, Desa Jagabaya, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. Brak!!! Tak diduga. Sekonyong-konyong angkot menyasar motornya hingga Siti terpelanting. Musibah tak terhindar. Apa daya, bencana itu tak bisa ia tepis.

Peristiwa sekitar 8 bulan lalu itu menyisakan luka mendalam. Kedua kakinya patah. Orang tua Siti telah berjuang sekuat tenaga mencari jalan terbaik untuk merawat dan mengobati Siti.

Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, Siti hanya bisa tergolek lesu di kursi roda. Perlahan kondisinya kian memburuk. Kedua kakinya mengalami pembusukan. Hingga di suatu hari, satu tungkai kakinya terlepas sendiri akibat pembusukan yang terjadi. Kondisi ekonomi yang sulit membuat keluarga hanya merawat Siti di rumah.

Siti tak bisa melanjutkan sekolah. Perlahan ia mengubur semua mimpi, cita-cita, dan harapan. Ia menyaksikan sendiri kakinya remuk dan terus membusuk. Sementara satu tungkai  kakinya terputus sendiri, kaki lainnya mengalami situasi serupa dengan luka terbuka yang terus merambat.

Hingga tiba di suatu ketika. Tuhan telah mempertemukan Siti Fadilah dengan Rano Karno pada medio Oktober lalu. Menyaksikan penderitaan Siti dan rasa sakit yang harus dirasakan selama berbilang bulan, Rano serta merta meminta izin keluarga Siti untuk membawanya ke rumah sakit. Alhasil, kaki kiri Siti diputuskan harus diamputasi. Sementara kaki kanannya mesti ditanam pen.

Sudah berkali-kali Rano Karno menjenguk ke rumah sakit dan memberi motivasi agar Siti bisa bangkit dari situasi terpuruk. Kepercayaan dirinya mulai kembali tumbuh. Harapan yang semula sirna kini bersemi kembali. Biaya operasi tak lagi menjadi pikiran Siti dan keluarganya.

Rano Karno mengambil alih tanggung jawab biaya perawatan selama Siti menjalani operasi di rumah sakit hingga beberapa bulan ke depan Siti menjalani physiotherapy. Termasuk membiayai kehidupan sehari-hari bagi orang tua Siti yang tak bisa bekerja karena ikut menunggu Siti di rumah sakit.

Wahdi, ayah kandung Siti Fadilah, tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah. “Dengan keterbatasan kami, alhamdulillah, kami beribu ribu terima kasih. Kami tidak tahu bagaimana membalasnya.” jelas Wahdi.

Dalam satu kunjungannya ke rumah sakit, di hadapan dokter ortopedi yang menangani Siti, Rano meminta izin pada Wahdi untuk mengangkat Siti sebagai anaknya. Wahdi yang hanya bisa menangis ketika itu tak mampu berkata-kata. Sikap Rano ini mendapat dukungan dari Dewi Indriati, sang istri, dan kedua anaknya, Raka dan Dea.

“Mereka bertiga yang ikut mendorong saya untuk meminta izin pada keluarga Siti agar Siti menjadi bagian dari keluarga besar kami. Saya ingin merawat Siti Fadilah sebagaimana saya telah merawat Raka dan Dea.” jelas Rano.

Langkah Rano yang acap menjenguk Siti ke rumah sakit bukannya tanpa risiko. Rano yang membiayai operasi dan biaya hidup untuk keluarga Siti selama menjalani operasi justru dipolitisasi  oleh sementara pihak.

“Anda akan bisa merasakan kebahagiaan yang tak terhingga saat melihat seseorang yang nyaris kehilangan harapan bisa kembali bangkit. Kalau sampai pilihan saya mengangkat Siti sebagai anak harus membawa konsekuensi saya kehilangan kesempatan sebagai calon gubernur, maka biarlah saya kehilangan kesempatan itu. Saya ikhlaskan. Yang penting saya masih diberi kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar saya. Biarkanlah ini menjadi ladang ibadah saya, kewajiban fardhu kifayah yang saya panggul di atas pundak saya,” ujar Rano.

Sementara Wahdi, ayah Siti, mengaku sedih saat sejumlah pihak mempolitisasi  langkah Rano membantu operasi dan biaya hidup untuk Siti dan keluarganya. “Pak Rano tidak pernah kampanye kalau ketemu kami. Tidak pernah ngomong soal pemilihan gubernur. Kenapa Pak Rano tidak boleh membantu kami dan tidak boleh mengangkat Siti sebagai anak?” katanya.

Setelah beberapa kali Rano menjenguk Siti di rumah sakit sebelum dan pascaoperasi, baru kali ini kunjungannya dipersoalkan sejumlah kalangan. Rano secara terbuka mengaku membantu biaya operasi Siti dan biaya hidup untuk keluarganya. Di banyak kunjungan itu Rano juga kerap membawa buah-buahan untuk Siti dan keluarga. Di ujung wawancara Rano kembali berujar, “Perjuangan meraih kekuasaan adalah perjuangan mewujudkan cita-cita kemanusiaan. Jangan sampai syahwat politik membutakan hati dan membui nurani kemanusiaan kita. Bagi saya, Siti adalah ujian kepedulian kita pada sesama. Terserah orang lain mau menilai apa.”

Sebaimana diketahui, Rano Karno adalah kandidat gubenur  yang akan  berkompetisi pada kontestasi Pilgub Banten 15 Februari 2017 mendatang. Rano  berpasangan dengan cawagub Embay Mulya Syarief didukung oleh koalisi partai PDIP, Parta Nasdem dan PPP.

Rano Karno mengunjungi RSUD Banten bersama tim pemenangan, pada Senin (21/11/2016) lalu. Tujuannya adalah menjenguk anak angkatnya Siti Fadilah yang dirawat di sana sekaligus menyelesaikan beberapa persoalan administrasi karena Rano Karno sudah berjanji kepada keluarga Siti Fadilah untuk menanggung semua biaya rumah sakit.

Calon petahana Gubernur Banten ini langsung memasuki ruang ortopedi di lantai dasar dan menemui salah satu dokter selama kurang lebih  30 menit. Selanjutnya, Rano Karno memasuki ruang perawatan pasien di lantai tiga.

Di ruang rawat inap salah satu pasien dari Kabupaten Lebak yang mengalami kecelakaan, Rano Karno berinteraksi cukup lama bahkan memberikan bingkisan dan buku biografi “Si Doel.” Rano Karno juga memberikan amplop yang diduga berisi uang. Tak hanya satu pasien, Rano Karno juga memberikan bingkisan kepada pasien lain.

Ketua DPD PDIP Banten HM Sukira mengakui kedatangan Rano Karno merupakan upaya blusukan calon gubernur. “Ya, itu biasa blusukan calon gubernur,” kata Sukira.

Kunjungan Rano Karno ke RSUD Banten itu dipersoalkan oleh Panwaslu Kota Serang. Bahkan anggota Panwaslu Kota Serang yang memantau saat Rano Karno berada di RSUD Banten sempat mengingatkan tim pemenangan Rano-Embay bahwa kunjungan ke RSUD Banten itu di luar jadwal.

“Aktivitas paslon tersebut tidak ada dalam jadwal kampanye yang disampaikan tim pemenangan kepada kami,” kata Koordinator Divisi Pengawasan dan Pencegahan Bawaslu Banten, Eka Satia Laksamana.

Eka mengatakan pihaknya telah menginstruksikan kepada Panwaslu di Kota Serang untuk meminta keterangan tim pemenangan dan pihak rumah sakit terkait kunjungan Rano Karno tersebut.

Pihak Panwaslu Kota Serang telah meminta keterangan dari sejumlah pihak terkait dalam kasus dugaan kampanye terselubung yang dilakukan Rano Karno tersebut.

Direktur RSUD Banten Dwi Hesti Hendarti memenuhi panggilan Panwaslu Kota Serang, Selasa (22/11/2016). Dwi Hesti datang ke Kantor Panwaslu Kota Serang sekitar pukul 14.00 WIB dan langung masuk ke ruangan untuk dimintai keterangan oleh para anggota Panwaslu.

“Saya sendiri nggak ada di kantor waktu itu. Jam 11 kan jam besuk, jadi siapa saja boleh masuk,” ujar Dwi Hesti usai dimintai keterangan oleh Panwaslu Kota Serang.

Hesti menjelaskan, pihaknya tidak mendapat konfirmasi tekait kedatangan Gubernur Banten nonaktif Rano Karno ke RSUD Banten.

“Tidak ada konfirmasi mau datang ke rumah sakit. Komunikasi hanya menanyakan kondisi anak itu  (pasien) itu saja. Kata beliau (Rano Karno) pengen diskusi sama dokternya. Kalau rumah sakit kan milik masyarakat,” ujarnya.

Editor: L Dami

 

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait