Hadiri “Seren Taun” di Cisungsang, Rano Karno: Ini Mungkin Kunjungan yang Terakhir

Share
Kepala Kasepuhan Masyarakat Adat Cisungsang Abah Usep mengenakan pengikat kepala kepada Gubernur Banten Rano Karno (kiri) pada upacara Seren Taun di Cisungsang, Minggu (28/08/2016).
Kepala Kasepuhan Masyarakat Adat Cisungsang Abah Usep mengenakan pengikat kepala kepada Gubernur Banten Rano Karno (kiri) pada upacara Seren Taun di Cisungsang, Minggu (28/08/2016).

CISUNGSANG, VerbumNews.com– Gubernur Rano Karno menghadiri upacara adat Seren Taun yang dilaksanakan oleh masyarakat Kasepuhan Cisungsang, Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Minggu (28/08/2016). Dalam membawakan sambutan, Rano Karno  menyampaikan pernyataan yang mengungkapkan ketidakyakinannya akan kembali menduduki jabatan gubernur Banten  pada tahun 2017 mendatang.

“Ini mungkin kunjungan terakhir saya ke Cisungsang. Ini merupakan kunjungan saya kedua kalinya selama saya menjadi wakil gubernur, Plt Gubernur dan Gubernur Banten.  Saya tidak tahu, apakah tahun depan saya bisa ke sini lagi atau tidak. Karena tidak tahu, bisa melanjutkan kembali atau tidak,” ujar Rano mengawali kata sambutannya pada upacara Seren Taun di Cisungsang, Minggu (28/08/2016).

Rano  meminta kepada Gubernur Banten selanjutnya, untuk bisa menjaga dan meneruskan pembangunan infrastruktur yang sudah selesai atau pun akan berjalan.

“Karena siapapun gubernurnya nanti, perencanaan harus dibuat sekarang,”  kata Rano Karno.

Masa jabatan Rano Karno sebagai Gubernur Banten akan berakhir pada Januari 2017 dan dipastikan mengikuti Pemilihan Gubernur (Pilgub) Banten pada tanggal 15 Februari 2017 untuk merebut kursi gubernur Banten periode 2017-2022.

Tugas terakhir Rano  adalah memastikan pembangunan jalan tol Serang-Panimbang atas permohonan Bang Doel kepada Presiden Jokowi harus segera dilakukan peletakan batu pertama. Sehingga Gubernur Banten selanjutnya dapat meneruskan pembangunan tersebut.

“Akhir tahun presiden akan melakukan  ground breaking tol Serang-Panimbang, Insya Allah Banten akan menjadi potensi wisata yang sangat unik dan menarik,” tegasnya.

Rano Karno mendorong agar   tradisi Seren  Taun masyarakat Kasepuhan Cisungsang  menjadi salah satu daya tarik wisata budaya  yang bisa dikenal secara nasional dan internasional.

Karena itu, Rano berjanji pada tahun 2017 mendatang, Pemerintah Provinsi Banten akan memberikan bantuan dana dari alokasi dana hibah sebesar Rp 1 miliar guna menyokong terselenggaranya tradisi Seren Taun masyarakat Kasepuhan Cisungsang.

“Setiap kali ada acara Seren Taun di Cisungsang, masyarakat pengunjung yang datang  begitu banyak bukan hanya berasal dari Banten tetapi juga dari Jakarta, Bogor, Sukabumi dan daerah lainnya. Pihak masyarakat Kasepuhan Cisungsang harus menanggung makan gratis bagi seluruh pengunjung. Saya coba mencari tahu ke Kasepuhan (Ketua Adat) Masyarakat Cisungsang Abah Usep, dana untuk membiayai makan para pengunjung hampir mencapai Rp 1 miliar. Karena itu, kami dari Pemprov Banten harus berbuat sesuatu. Kami harus ikut membantu, kendati dalam tradisi masyarakat Kasepuhan Cisungsang, acara adat Seren Taun memberi makan gratis itu sudah biasa dilakukan,” ujar Rano.

Menurut Rano, tradisi Seren Taun di Cisungsang perlu didorong untuk jadi objek wisata budaya. Karena itu, perlu dukungan pembangunan infrastruktur yang memadai termasuk guest house (rumah penginapan) bagi para pengunjung dan lain-lain.

“Tradisi Seren Tahun di Cisungsang sudah berjalan 700 tahun. Biasanya para pengunjung menginap di rumah warga tanpa dipungut biaya. Karena itu mungkin perlu dipikirkan untuk membangun penginapan. Kalau pun menginap di rumah warga, maka rumah warga tersebut perlu dibuat seperti home stay sehingga pengunjung perlu membayar sehingga ekonomi di masyarakat Kasepuhan Cisungsang juga ikut diberdayakan,” ujarnya.

Rano menegaskan, tradisi Seren Taun Cisungsang adalah kearifan lokal sebagai salah satu jati diri Banten yang harus dilestarikan. Budaya adat Banten Kidul merupakan aset yang dimiliki oleh Banten dengan segala kekhasannya. Selain sebagai ritual tahunan, Seren Taun juga menjadi objek pariwisata lokal yang saat ini tengah diajukan ke Kementrian Pariwisata (Kempar) untuk dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda sama dengan beberapa kebudayaan dan kesenian yan g sudah tercatat diantaranya seperti Seba Baduy, Debus dan Ubrug.

Sementara itu, Kasepuhan (Ketua Adat) Masyarakat Cisungsang Abah Usep mengatakan, prosesi Seren Taun merupakan syukuran setiap usai panen yang dilaksanakan di Imah Gede Kesepuhan Cisungsang. Ada bawaan padi dari masyarakat, ada rangkaian acara lainnya selama satu minggu.

“Masyarakat yang hadir dipersilakan makan secara gratis, ini bukan acara komersial,” kata  Abah Usep.

Abah Usep mengatakan bahwa tradisi itu sudah berlangsung sekitar 700 tahun lalu dan dijalankan secara turun-temurun setiap tahun. Bahkan, kunjungan warga yang ingin menyaksikan tradisi tersebut setiap tahunnya terus meningkat.

“Dahulu pada saat para tamu yang datang ke acara ini sekitar 1.000 sampai 3.000 orang, kami masih mmapu ngasih makan. Sekarang lebih dari itu, kami keteter. Untuk itu, perlu dicarikan solusinya seperti apa agar kami juga bisa melayani semua tamu yang datang ke sini. Akan tetapi, tidak ingin membebani masyarakat di sini,” kata Abah Usep.

Ia mengatakan bahwa tradisi tersebut merupakan bentuk syukur masyarakat Cisungsang atas hasil panen yang mereka peroleh serta sebagai jembatan silaturahmi antara masyaralat Cisungsang dan Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Lebak.

Selain itu, kegiatan tersebut juga sebagai sarana rekreasi masyarakat dengan menyuguhkan berbagai hiburan dan kesenian.

Penulis: L Dami

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait