Gedung Putih Menuding Media Mendelegitimasi Donald Trump

Share
Kepala Staf Gedung Putih Reince Priebus (kanan) berjalan bersama staf saat ia tiba untuk menghadiri pertemuan dengan Donald Trump di Mar-a-lago Klub, Palm Beach, Florida, AS, 28 Desember 2016. (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

WASHINGTON, VerbumNews.com – Pihak Gedung Putih  pada hari Minggu (22/01/2017) berjanji untuk melawan berita media yang melakukan serangan  tidak fair terhadap Presiden AS Donald Trump. Janji ini  akan menimbulkan permusuhan antara media dan Trump sampai pada tingkat balas dendam.

Sehari setelah presiden dari Partai Republik  itu melakukan  lawatan pertamanya ke markas besar Central Intelligence Agency  (CIA),   pihak Gedung Putih  menuduh media massa meremehkan jumlah pengunjung pada saat  pelantikan Trump.

Hal itu disampaikan  Kepala Staf Gedung Putih Reince Priebus, Minggu (22/01/2017). Priebus  mengungkapkan kegeramannya atas laporan mengenai jumlah pengunjung pelantikan Trump itu sebagai serangan kepada Trump.

“Intinya bukan ukuran berapa  banyak jumlah  massa. Intinya adalah itu serangan dan upaya mendelegitimasi presiden ini  dalam waktu satu hari. Kami tidak akan tinggal diam  dan  menerimanya begitu saja,” kata Priebus kepada   “Fox News Sunday” seperti dikutip Reuters.

Priebus juga mengeluhkan laporan media massa  yang menyatakan bahwa patung  Martin Luther King Jr telah dihilangkan  dari Oval Office. Laporan media massa Jumat (20/01/2017)  malam itu kemudian dikoreksi oleh media itu namun Trump  memanggil wartawan itu dengan nama ketika  berada di markas CIA sehari kemudian. Kemudian  Juru Bicara Gedung Putih Sean Spicer memarahi wartawan tersebut.

“Kami akan melawan itu setiap hari dan dua kali  pada hari Minggu,” kata Priebus.

Kepala Staf Gedung Putih Reince Priebus  kemudian mengulangi tuduhan Spicer bahwa media telah memanipulasi foto-foto di National Mall (tempat Trump membawakan  pidato pelantikan) untuk menunjukkan sedikitnya jumlah orang yang menghadiri pelantikan Trump pada  Jumat (20/01/2017) lalu.

Faktanya dari foto udara terlihat jumlah pengunjung yang menghadiri pelantikan Trump memang lebih kecil ketimbang ketika Barack Obama, presiden kulit hitam pertama AS, dilantik pada 2009.

Ironisnya jumlah peserta pelantikan Trump jauh lebih kecil ketimbang gelombang unjuk rasa para wanita di Washington sehari kemudian. Sistem kereta bawah tanah Washington bahkan melaporkan bahwa sampai pukul 11 pagi pada hari  Sabtu waktu setempat, ada 275.000 penumpang  menggunakan jasa sistem transportasi ini,  untuk mengikuti unjuk rasa kaum perempuan penentang Trump.

Sistem kereta bawah tanah  Washington juga menyebutkan sampai pukul 11 pagi Jumat saat Trump dilantik, ada 193.000 penumpang yang menggunakan sistem transportasi umum ini. Padahal sewaktu Obama dilantik pada 2009, ada 513.000 penumpang yang menggunakan kereta bawah tanah untuk menghadiri pelantikan.

Editor: L Dami

Sumber: Reuters

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait