Daya Tarik “Seren Taun” di Cisungsang Tak Akan Lekang Oleh Waktu

Share
Gubernur Banten Rano Karno (kelima dari kiri) didampingi Ketua Adat masyarakat Kasepuhan Cisungsang Abah Usep (keempat dari kiri)  dan Sekretaris Daerah (Sekda) Banten Ranta Soeharta (ketiga dari kiri) dan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya (keenam dari kiri)  serta sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Banten, menyaksikan acara Seren Taun di Cisungsang, Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Minggu (28/08/2016).
Gubernur Banten Rano Karno (kelima dari kiri) didampingi Ketua Adat masyarakat Kasepuhan Cisungsang Abah Usep (keempat dari kiri) dan Sekretaris Daerah (Sekda) Banten Ranta Soeharta (ketiga dari kiri) dan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya (keenam dari kiri) serta sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Banten, menyaksikan acara Seren Taun di Cisungsang, Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Minggu (28/08/2016).

Perjalanan tradisi Seren Taun di masyarakat Kasepuhan Cisungsang, Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten, Lebak, Provinsi Banten sudah berjalan selama 700 tahun. Adat Seren Taun tetap lestari, kendati zaman terus berubah.

Lestarinya tradisi Seren Taun di Cisungsang karena masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang tidak alergi dengan perkembangan zaman. Masyarakat adat Cisungsang justru mampu mengadaptasikan diri dengan zaman modern, tapi tidak meleburkan diri. Unsur budaya modern diadopsi atau dimasukan dalam hal-hal yang sifatnya asesoris semata, namun substansi adat tetap asli dan tidak berubah.

Musik dangdut sebagai produk budaya  modern dimasukkan sebagai salah satu rangkaian acara, namun pementasan wayang dan musik tradisional tetap diprioritaskan. Kemasan acara boleh dibuat sedemikian rupa supaya terlihat  menarik bagi pengunjung, namun substansi budaya Seren Taun tetap tampil asli sesuai yang diwariskan oleh adat istiadat nenek moyang masyarakat Kasepuhan Cisungsang secara turun temurun.

Masyarakat adat Cisungsang bermukim di kaki Gunung Halimun, yang dikelilingi oleh empat desa adat yakni Desa Cicarucub, Bayah, Citorek, dan Desa Cipta Gelar. Masyarakat adat Cisungsang, merupakan bagian dari Desa Cisungsang,  Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak.

Jumlah penganut adat Kasepuhan Cisungsang sebanyak 11 ribu jiwa, yang tersebar di kota-kota di seluruh Indonesia. Nama Cisungsang, secara historis berasal dari nama salah satu sungai yang mengalir dari talaga Sangga Buana. Talaga ini mengalir ke Sembilan sungai yaitu Sungai Cimadur, Ciater, Cikidang, Cisono, Ciberang, Cidurian, Cicatih, Cisimeut, dan Cisungsang.

Masyarakat Cisungsang menganut tiga sistem pemerintahan yakni pemerintahan negara, sistem kasepuhan atau hukum adat, dan sistem agama atau hukum islam.

Masyarakat adat Cisungsang terdiri dari 11 rukun tetangga (RT), sembilan rukun kampong (RK) yang terdiri dari Kampung Cipayung, Lember Gede, Pasir Kapundang, Babakan, Sela Kopi, Pasir Pilar, Gunung Bongkok, Suka Mulya dan Bojong. Masyarakat adat Cisungsang, dipimpin oleh kepala adat, yang penunjukkannya melalui proses wangsit daru karuhun.

Kepemimpinan di masyarakat adat Cisungsang, sudah terjadi empat generasi yakni generasi pertama oleh Embah Buyut, yang berusia kurang lebih 350 tahun, generasi kedua oleh Uyut Sakrim berusia kurang lebih 126 tahun, dan generasi keempat oleh Abah Usep yang sekarang berusia 46 tahun, di mana ia mulai terpilih menjadi kepala adat berdasarkan wangsit sejak berusia 19 tahun.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, Abah Usep dibantu oleh 50 perwakilan yang diambil dari kasepuhan kampung, dan 87 rendangan yang diambil dari keturuan kolot atau kepala adat.

Masyarakat Kasepuhan  Cisungsang pada umumnya menganut agama Islam dan hukum adat. Namun sebagian besar lebih percaya pada hukum adat. Mereka lebih percaya dengan wangsit dari karuhun melalui Kepala Adat  Abah Usep. Segala sesuatu ditentukan oleh Abah Usep. Jika Abah Usep tidak menghendaki sesuatu, atau yang tidak diharapkan akan terjadi, maka akibatnya bisa menderita sakit, usaha selalu gagal, rumah tangga berantakan, bahkan ada yang meninggal dunia secara tiba-tiba.

Karena itu, masyarakat adat Cisungsang, sangat menjaga dan mematuhi larangan-larangan dan kewajiban, dari kepala adat, karena mereka yakin akan terjadi sesuatu jika melanggar.

Namun jika kepala adat tidak menghendaki akibat itu terjadi, maka masyakat adat Cisungsang harus melakukan lukun (pengakuan dosa).

Lukun terdiri dari tiga tahapan sesuai tingkat berat ringannya pelanggaran hukum adat, antara lain:  Pertama, lukun lima yakni jika seseorang melakukan perbuatan dosa kecil, maka cara yang harus dilakukan adalah menyembah kepala adat sebanyak lima kali disertai dengan doa-doa.

Kedua, lukun tujuh, jika seseorang melakukan dosa sedang, cara pengampunan yang dilakukan adalah menyembah kepala adat sebanyak tujuh kali disertai dengan doa-doa.

Ketiga, lukun salapan, yakni jika seseorang melakukan perbuatan melanggar hukum adat, yang sudah parah, maka orang bersangkutan harus menyerahkan diri, sampai berani dibunuh, dan biasanya sampai meninggal dunia, kalau tidak segera melakukan lukun salapan.

Masyarakat adat Cisungsang hidup dari mata pencaharian sebagai petani. Karena itu, masyarakat Cisungsang sangat mengagungkan padi (pare) atau saripohaci, atau Dewi Sri dengan keyakinan bahwa padi sebagai sumber kehidupan.

Atas dasar itu, masyarakat Kasepuhan  Cisungsang, selalu mengadakan ritual-ritual untuk mengagungkan padi, di antaranya dari menanam padi sampai menyimpan padi, dengan cara selamatan yang disebut dengan ngamumule pare (memelihara padi).

Rangkaian ritual ngamumule pare ini terdiri dari lima tahap yakni pertama, nibakeun sri ka bumi  yang berarti kegiatan adat yang dilakukan pada saat menyebar benih, sampai menuai benih dalam jangka waktu 45-50 hari.

Kedua, ngamitkeun sri ti bumi, kegiatan adat yang dilakukan sebelum memetik atau memanen padi.

Ketiga, ngunjal, kegiatan menyimpan padi di lumbung setelah dikeringkan.

Keempat, rasul pare di leuit,  mempersembahkan tumpeng rasul dan bebakak ayam jantan berwarna kuning keemasan.

Kelima, seren taun, upacara adat menyimpan padi di lumbung, yang dilakukan setiap tahun, yang jatuh pada bulan Juli, dan perayaan seren taun, tahun berikutnya maju 10 hari dari perayaan seren taun sebelumnya.

Dalam upacara seren taun ini dipentaskan beberapa acara adat yakni angklung buhun, dogdog lojor, sisindiran atau pantun, ngagondang, wayang golek, ujungan, silat baster, rengkong, celempung, karinding, dan betok (bas dari bambu yang dimainkan dengan cara ditiup).

Selain itu, dalam upacara seren taun, dipentaskan lagi seluruh rangkaian memelihara padi mulai dari menanam padi sampai menyimpan padi di lumbung yang diperagakan dengan tarian adat, diiringi musik tradisional.

Ritual Seren Tahun merupakan ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa pasca panen padi ini oleh masyarakat Kasepuhan Cisungsang. Acara adat Seren Taun ini  adalah akhir sekaligus awal kegiatan sosial masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang. Disebut akhir, karena pada ritual Seren Taun seluruh Masyarakat Adat Kasepuhan Cisungsang memberikan laporan aktivitasnya selama setahun ke belakang. Peristiwa ini pun disebut pula sebagai awal, karena pada ritual ini Kepala Adat yang dipimpin Abah Usep Suyatma Sr memberikan wejangan-wejangan dan bekal untuk aktivitas setahun ke depan.

Ritual ini juga merupakan ajang silaturahmi antara anggota masyarakat kasepuhan dengan kepala adat. Masyarakat kasepuhan melaporkan kegiatan selama setahun kepada kepala adat. Dalam menentukan waktu pelaksanaan ritual, Kepala Adat mengundang para penasihat, perangkat kasepuhan, dan para réndangan (perwakilan masyarakat adat), tokoh agama, tokoh pemuda, pemerintah desa, kecamatan, kepolisian untuk menyampaikan rangkaian kegiatan dimaksud.

Seren Taun yang dilaksanakan selama 7 hari 7 malam, berlokasi di Imah  Gede yaitu tempat kediaman kepala adat, diisi dengan berbagai kegiatan dan ritual adat. Ritual Adat Seren Taun juga merupakan puncak siklus dari tradisi masyarakat Kasepuhan Cisungsang dalam proses pengolahan, menanam, memelihara, menyimpan, dan menghargai padi  (Dewi Sri).

Pada tahun 2016 ini, pelaksanaan digelar mulai tanggal 22 hingga tanggal 29 Agustus 2016, dengan mengambil tema “Mi Éling Ciri Wanci Ti Karuhun” (Mengingat Merupakan Ciri Waktu dari Karuhun). Acara Seren Taun yang berlangsung Minggu (28/8) dihadiri oleh  Gubernur Banten Rano Karno, Sekretaris Daerah (Sekda) Banten Ranta Soeharta, seluruh kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Provinsi Banten, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya bersama jajarannya.

Daya Tarik Wisata Budaya

Kelestarian tradisi Seren Taun di Cisungsang, menjadi daya tarik (magnet) tersendiri bagi para pencinta wisata budaya. Setiap hari, masyarakat Kasepuhan Cisungsang dikunjungi oleh para wisatawan pencinta wisata budaya.

Bahkan, pada upacara Seren Taun pada tahun 2016 ini, jumlah pengunjung mencapai 15.000 orang. Hal inilah yang mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak untuk mengembangkan tradisi Seren Taun di Cisungsang tersebut menjadi salah satu paket wisata yang lebih luas baik secara nasional maupun internasional.

Gubernur Banten Rano Karno pada saat menghadiri acara Seren Tahun di Cisungsang, Minggu (28/8) mengatakan, tradisi Seren Taun Cisungsang merupakan kearifan lokal sebagai salah satu jati diri Banten yang harus dilestarikan.

Menurut Rano,  budaya adat Banten Kidul merupakan aset yang dimiliki oleh Banten dengan segala kekhasannya. Selain sebagai ritual tahunan, Seren Taun juga menjadi objek pariwisata lokal yang saat ini tengah diajukan ke Kementrian Pariwisata (Kempar) untuk dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda sama dengan beberapa kebudayaan dan kesenian yang sudah tercatat diantaranya seperti Seba Baduy, Debus dan Ubrug.

Oleh karenanya, Gubernur mengungkapkan saat ini pemerintah tengah melakukan perbaikan infrastruktur di Banten Selatan agar pembangunan  di bidang sektor pariwisata terus menggeliat hingga jembatan menuju kesejahteraan rakyat.

“Kunjungan warga ke acara Seren Taun ini terus meningkat. Bahkan saya kaget jika kunjungan warga atau wisatawan ke acara ini selama tujuh hari mencapai 15.000 orang,” kata Gubernur didampingi Sekda Banten Ranta Soeharta beserta jajarannya.

Kasepuhan (Ketua Adat) Masyarakat Cisungsang Abah Usep mengatakan, prosesi Seren Taun merupakan syukuran setiap usai panen yang dilaksanakan di Imah Gede Kesepuhan Cisungsang. Ada bawaan padi dari masyarakat, ada rangkaian acara lainnya selama satu minggu.

“Masyarakat yang hadir dipersilakan makan secara gratis, ini bukan acara komersial,” kata  Abah Usep.

Abah Usep mengatakan bahwa tradisi itu sudah berlangsung sekitar 700 tahun lalu dan dijalankan secara turun-temurun setiap tahun. Bahkan, kunjungan warga yang ingin menyaksikan tradisi tersebut setiap tahunnya terus meningkat.

“Dahulu pada saat para tamu yang datang ke acara ini sekitar 1.000 sampai 3.000 orang, kami masih mmapu ngasih makan. Sekarang lebih dari itu, kami keteter. Untuk itu, perlu dicarikan solusinya seperti apa agar kami juga bisa melayani semua tamu yang datang ke sini. Akan tetapi, tidak ingin membebani masyarakat di sini,” kata Abah Usep.

Ia mengatakan bahwa tradisi tersebut merupakan bentuk syukur masyarakat Cisungsang atas hasil panen yang mereka peroleh serta sebagai jembatan silaturahmi antara masyaralat Cisungsang dan Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Lebak.

Selain itu, kegiatan tersebut juga sebagai sarana rekreasi masyarakat dengan menyuguhkan berbagai hiburan dan kesenian.

“Acara hiburan dikemas oleh para sponsor dan pemerintah daerah. Saya ucapkan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi  Banten dan Kabupaten Lebak yang telah membantu mengemas acara ini sehingga lebih menarik dan sukses,” katanya.

Bupati Lebak Iti Ictavia Jayabaya mengatakan bahwa di Kabupaten Lebak ada beberapa kesepuhan yang tergabung Kesatuan Adat Banten Kidul (Sabaki). Kesepuhan di Banten tersebut diantaranya ada di Citorek, Sobang, Cisungsang, dan Cipta Gelar.

“Saya berharap tradisi masyarakat adat ini bisa tetap dilestarikan dan menjadi salah satu destinasi pariwisata di Lebak dan Banten yang memberikan kontribusi bagi kesejehtaraan masyarakat sekitar,” katanya.

Iti berharap,  ke depan  acara Seren Taun  menjadi paket wisata. ”Pembangunan tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah saja tetapi semua elemen masyarkat harus terlibat,” ujar  Iti.

Penulis: L Dami

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait