Cawagub Andika: Peralihan Lahan Pertanian Jadi Permukiman Harus Disudahi

Share
Calon wakil gubernur (cawagub) Banten dari nomor urut 1 Andika Hazrumy mengikuti panen raya di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Selasa (06/12/2016).

LEBAK, VerbumNews.com – Semakin sempitnya lahan pertanian, salah satu sebabnya adalah terjadinya peralihan  lahan pertanian menjadi permukiman. Menjamurnya  pengembang (developer) di bidang perumahan, membuat lahan pertanian ikut menjadi target untuk dijadikan kompleks perumahan.

Fenomena ini menjadi salah satu keprihatinan pasangan cagub-cawagub Banten Wahidin Halim-Andika Hazrumy (WH-Andika). Cawagub Andika ketika menghadiri panen raya di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Selasa (06/12/2016) menegaskan, lahan-lahan pertanian milik masyarakat harus dilindungi dan dipertahankan, sehingga tidak dijual ke  pengembang untuk dijadikan  komplek perumahan.

“Kita tentu akan membangun iklim investasi yang kondusif. Perizinan dipermudah. Namun, dalam konteks peralihan lahan pertanian menjadi permukiman, kita harus tegaskan untuk disudahi. Masih banyak lahan lain yang bisa dijadikan komplek perumahan,” tegas Andika di Sajira, Lebak, Selasa (06/12/2016).

Menurut Andika, jika peralihan lahan persawahan atau pertanian menjadi permukiman terus terjadi, maka sumber penghasilan petani berkurang, dan produksi padi dan beras pun akan menurun. Konsekuensi lebih lanjut adalah terjadinya penurunan ketahanan pangan masyarakat Banten.

“Bagaimanapun, Banten juga dikenal sebagai pusat produksi padi dan beras. Karena itu, wilayah pertanian di Banten harus terus dijaga. Para petani harus terus diberdayakan. Kebijakan pemerintah harus benar-benar pro petani,” ujarnya.

Andika berjanji jika pasangan Wahidin Halim-Andika Hazrumy (WH-Andika)  terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Banten, pihaknya  akan mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap petani.

“Pasangan WH-Andika telah berkomitmen untuk mengeluarkan program yang pro petani. Selain kebijakan penetapan lahan pertanian produktif, kami (WH-Andika) juga akan mengawal alur produksi  pertanian,” ujar Andika.

Andika menegaskan, peralihan lahan pertanian menjadi pemukiman atau perumahan yang terjadi secara besar-besaran harus  harus disudahi. Menyusutnya lahan pertanian, kata Andika,  berdampak sistemik baik  baik terhadap tingkat produksi pertanian, tingkat kesejahteraan petani maupun  ketahanan pangan masyarakat Banten.

“Provinsi Banten saatnya mengkaji penerapan sistem industri pertanian. Penerapan teknologi harus lebih  intens diterapkan. Sekarang Litbang Kementerian Pertanian sudah berhasil mengembangkan benih unggulan teknologi padi  super yang bisa meningkatkan produksi dua kali lipat dari hasil panen biasanya,” tuturnya.

Kelompok masyarakat petani Kecamatan Sajira,  sengaja mengundang Andika dalam kegiatan pertama kali panen di akhir tahun 2016 ini. Dalam kegiatan itu, Andika turun ke sawah dan menandai panen raya pertama dengan melakukan pemotongan padi di sawah milik kelompok masyarakat petani Sajira. Selanjutnya para petani bergerak serempak memulai panen.

Tak hanya sempat memotong padi, Andika juga menggebot tanaman padi ke alat tradisional yang dibuat warga hingga menjadi buliran gabah.

Sementara salah satu petani, Teti Sumiyati mengaku sejak awal ia memang akan menjatuhkan pilihan kepada pasangan nomor urut 1, Wahidin Halim-Andika Hazrumy. Selain karena Wahidin cukup diketahui merupakan wali kota yang berhasil memimpin Kota Tangerang juga Andika merupakan tokoh muda yang berhasil memimpin sejumlah organisasi sosial dan kemanusiaan.

“Sebenarnya kami sudah lama berharap didatangi pak Andika. Alhamdulillah saat panen raya pertama kami,  beliau bisa datang dan mau  turun ke sawah,” kata Teti.

Teti dan komunitas Petani Sajira berharap di bawah kepemimpinan WH-Andika Provinsi Banten bisa lebih maju, terutama bisa meningkatkan kesejahteraan para petani di Banten. “Kita pingin Pak Cawagub bisa lebih perrhatian kepada profesi petani. Kami juga minta tolong, agar dibantu untuk harga lahan Waduk Karian, supaya harganya tidak rendah. Setidaknya harga lahan, bisa beli dua kali lahan penggantinya,” harap Teti.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Banten, luas lahan sawah di Provinsi Banten pada tahun 2015 tercatat sebesar 201.270 hektare, dimana 94,65 persen diantaranya terletak di 4 kabupaten yaitu Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak,  Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang.

Kabupaten Pandeglang merupakan wilayah yang memiliki luas lahannya terbesar yaitu mencapai 54.768 hektare  atau 27,21 persen dari total luas lahan di Banten, disusul oleh Kabupaten Lebak sebesar 49.677 hektare (24,68 persen) kemudian Kabupaten Serang sebesar 48.925 hektare (24,31 persen) dan Kabupaten Tangerang sebesar 37.127 hektare (18,45 persen), sedangkan luas lahan sawah sisanya sebesar 5,35 persen berasal dari Kota Tangerang sebesar 706 hektare (0,35 persen), Kota Cilegon sebesar 1.627 hektare (0,81 persen), Kota Serang sebesar 8.325 hektare (4,14 persen) dan terakhir Kota Tangerang Selatan adalah kabupaten/kota di Provinsi Banten yang memiliki luas lahan sawah terkecil yaitu hanya sebesar 115 hektare atau 0,06 persen dari total lahan sawah dibanten.

Sebesar 199.492 hektare atau 99,12 persen lahan sawah di Provinsi Banten ditanami padi, sedangkan sisanya sebesar 0,88 persen tidak ditanami padi, dari sekitar 1.778 hektare lahan sawah yang tidak ditanami padi, 1.411 hektare (79,36 persen) ditanami tanaman lainnya selain padi, sedangkan sisanya sebesar 367 hektare (20,64 persen) tidak ditanami apa pun. Sebesar 77,33 persen dari luas lahan yang ditanami padi atau sekitar 154.276 hektare  lahan sawah ditanami padi sebanyak dua kali dalam setahun, sisanya sebesar 30.589 hektare  (15,33 persen) hanya ditanami padi sebanyak satu kali dalam setahun dan selebihnya sekitar 14.627 hektare  (7,33 persen) ditanami padi lebih dari tiga kali dalam setahun.

Berdasarkan jenis pengairan, 103.767 hektare atau 51,56 persen luas lahan sawah diantaranya adalah lahan sawah irigasi. Jenis lahan sawah irigasi yang terluas terdapat di Kabupaten Serang (26.678 hektare atau 25,71 persen), kemudian diikuti oleh Kabupaten Tangerang (24.857 hektare atau 23,95 persen), Kabupaten Lebak (24.067 hektare atau 23,19 persen), Kabupaten Pandeglang (22.666 hektare atau 21,84 persen), sedangkan Kota Serang dan Kota Tangerang masih di bawah 5 persen dari total luas lahan sawah irigasi di ProvinsiBanten.

Berdasarkan luasnya berturut-turut adalah Kota Serang (4.933 hektare atau 4,81 persen) dan Kota Tangerang (506 hektare atau 0,49 persen) sedangkan di Kota Tangerang Selatan dan dan Kota Cilegon tidak terdapat lahan sawah irigasi.

Hampir seluruh luas lahan sawah irigasi ditanami padi, sebesar 102.944 hektare  atau 99,21 persen lahan sawah irigasi di Provinsi Banten ditanami padi, sedangkan sisanya sebesar 0,79 persen tidak ditanami padi, dari sekitar 823 hektare lahan sawah irigasi yang tidak ditanami padi, 819 hektare (99,51 persen) ditanami tanaman lainnya selain padi.

Sedangkan sisanya sebesar 4 hektare (0,49 persen) tidak ditanami apa pun. Sebesar 79,67 persen dari luas lahan sawah irigasi yang ditanami padi atau sekitar 82.016 hektare lahan sawah irigasi ditanami padi sebanyak dua kali dalam setahun, sisanya sebesar 13.241 hektare (12,86 persen) ditanami padi lebih dari tiga kali dalam setahun dan selebihnya sekitar 7.687 hektare (7,47 persen) hanya ditanami padi sebanyak satu kali dalam setahun.

Editor: L Dami

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait