Belajar dari Totalitas Nurlaela yang Abdikan Dirinya untuk Bantu Sesama

Share
Nurlaela, warga Desa Tamansari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Banten.

CILEGON, VerbumNews.com-Mengabdikan diri untuk membantu sesama yang tidak mampu secara ekonomi dan juga membantu orang yang menderita HIV/AIDS, merupakan pilihan orang-orang yang berhati mulia dan bernurani bening. Tidak banyak orang yang memiliki semangat mulia seperti Nurlaela, warga Desa Tamansari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon.

Wanita berkerundung ini saban hari menghabiskan waktunya untuk total membantu sesama tanpa mengeluh.  Nurlaela setiap hari berada di puskesmas untuk mendampingi orang-orang yang tidak mampu secara ekonomi guna mengurus administrasi kesehatan.

Nurlaela bukanlah  seorang pegawai negeri sipil (PNS). Dia hanyalah warga biasa, namun setiap hari dia bersiaga di Puskemas Pulomerak untuk membantu masyarakat agar mendapat pelayanan kesehatan dengan baik.

“Setiap hari saya harus ngantor di Puskesmas Pulomerak seperti PNS.  Saya berkomitmen untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutu Nurlaela ketika berbincang dengan wartawan,  belum lama ini.

Nurlaela mengaku, pihaknya mengurus persyaratan dan administrasi  jika ada masyarakat hendak dirujuk dari puskesmas ke rumah sakit. “Bahkan hingga mengantar pasien tidak mampu secara ekonomi ke rumah sakit, di wilayah Banten,  ada juga yang diantar  hingga ke Jakarta,” ujarnya.

Pelayanan selama 24 jam kepada masyarakat membuat Nurlaela harus rela meninggalkan keluarganya berhari-hari di rumah. Bahkan bukan hanya untuk warga kurang mampu di Kecamatan Pulomerak, Nurlaela juga  membantu warga tidak mampu di  Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang. “Saat warga membutuhkan pertolongan, tengah malam pun saya bangun, dan saya sudah jalani ini selama 10 tahun,” ujarnya.

Nurlaela  juga menangani dan membantu orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Ia ditunjuk sebagai Ketua Warga Peduli AIDS (WPA) di Kecamatan Pulomerak. Nurlaela dan suami membentuk posko di samping rumahnya.

“Banyak yang harus diberikan penyadaran perihal bahaya HIV/AIDS. Bahkan di Pulomerak ada lima ODHA. Jumlah penderita ODHA di Kecamatan Pulomerak ini peringkat kedua setelah Kecamatan Ciwandan,” ujarnya.

Bukan hanya itu, ternyata ibu empat anak ini punya kepedulian juga  terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Ia mendampingi sekira 30 ODGJ di Kecamatan Pulomerak. Nurlaela merupakan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). Akibat bergelut di dunia kesehatan, ia banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan. “Saya disebut dokter tanpa sertifkat,” ujarnya tertawa kecil.

Profesi lain? Nurlaela juga merupakan pekerja sosial masyarakat (PSM), pengurus Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3), kader JKN-KIS, dan kader Badan Narkotika Nasional (BNN). “Semua dijalanin dengan ikhlas. Senang bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Kendati banyak  profesi  yang disemat di pundaknya dan mengharuskan Nurlaela ikhlas dalam  pengabdian  terhadap masyarakat,  namun Nurlaela masih merasa dirinya belum banyak bermanfaat bagi masyarakat. “Saya masih melihat, kerja saya untuk masyarakat kurang bagus. Tetapi berpatokan tetap bekerja dengan ikhlas, walau saya sadari ada pro dan kontra di masyarakat,” ujarnya.

Kamsari, suami Nurlaela  cukup mengerti aktivitas istrinya, Nurlaela. Ia pun menitipkan pesan kepada Nurlaela agar tidak meminta imbalan terhadap setiap pengabdian kepada masyarakat. Meski berat, ia pun harus ikhlas ditinggalkan Nurlaela ketika ada tugas ke luar kota, baik untuk melayani masyarakat maupun pelatihan yang digelar pemerintah.

“Saya cukup terharu ketika ada masyarakat yang pernah dibantu, kemudian mengantarkan pisang ke rumah. Bagi kami, bukan imbalan yang diharapkan, tapi ibadah dan bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Editor: L Dami

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait